Selasa, 03 November 2015

Halaman Negeri Ku



Halaman Nusantara Ku
                Ya ini memang kegemaran ku. Aku senang membungkukkan badanku yang hampir tegak seperti Paskibraka kabupaten ini. Ya, walaupun tidak setegak bapak Seokarno namun tidak selemas pidana mati narkoba juga. Seperti kata pak Jokowi “bunuh saja”.
                Namun sebenarnya ini bukan kegemaranku. Tapi ini seperti panggilan. Ya panggilan. Bukan seperti panggilan para pejabat yang mencalonkan diri sebagai koruptor. Ya walaupun kata mereka kurupsi itu menambah pundi-pundi rizki. Kalau begitu enak sekali.
                Sialan. Aku mulai lagi dengan pandangan sinins ku terhadap negeri ini. Padahal tidak selamanya begini. Buktinya pak Habibie, dialah idola ku yang sejati. Dengan lantunan puisi yang sering beliau tuang dalam goresan tinta hitam di atas kertas suci. Memang luar biasa beliau.
                Tunggu dulu, kenapa Ranggi membawa keresek hitam kotor itu. Padahal kata teman-teman ku dia cowok yang paling resik lho. Sampai gosipnya dia selalu menyuap ajudan cemennya si Doling untuk membuang sampahnya.
                “kampret! Ngerepotin aja”
                “Kenapa kamu Nggi?”
                “Ini ada tikus mati di laci meja ku”
                Aku tercengan agak hebat tapi tetap pada umumnya. Maksud ku apa mimpi anak ini tadi malam tumben ndak pakai tenaga ajudan payahnya itu. Aku tak mau menanyakan kemana si Doling. Buat apa?
                “Kenapa Drik? Emang kamu mau bantuin aku membuang benda menjijikan ini?”
                “Tidak ada Nggi. He..he.. kamu buang aja sendiri. Sesekali kaumu belajar mandiri kan sudah        …………….besar. Lagi pula masih banyak plastik limbah manusia-manusia tak berotak ini”.
                “Ha..ha.. kamu kan memang suka seperti ini. Membersihkan sampah orang lain. Kalau aku sih …………….nggak banget Drik”.
                Aku hanya membalas dengan senyum simple untuk menghargai teman kelas ku waktu masih kelas X itu. Maksudku bukan masalah pekerjaan yang kulakukan sekarang. Tepatnya sih bukan pekerjaan tapi , entahlah apa juga. Mungkin ini kegemaran ku kali.
 Tapi tikus itu. Ya benar, kenapa tikus itu mati? Padahal siapa yang membawa racun ke sekolah. Kaupun ada pasti hanya sampai gerbang karena terditeksi alat canggih di gerbang. Yang jelasbukan mati kelaparan, soalnya kemarin saya dengar penjaga sekolah kebobolan ember berasnya dicuri tikus. Pasti itu tikusnya.


Tetapi kenapa tikus itu membobol ember berasnya pak Karsah ya? Katanya sampai stengahnya amblas. Padahal tubuhnya kecil masa bisa menguras setengah ember beras. Sialan, pasti ada yang di santuni, eh bukan maksudku disuapi. Mungkin saja istri simpanannya. Bodoh sekali padahal akhirnya dia mati juga.
                Sudahlah untuk apa mengurus bangkai seperti itu. Mampus juga ente.
“Biarkan saja aku memakanmu”.
“Tidak! Aku masih mau hidup, aku masih muda”.
“Iya saya tahu, kamu benar”
“Terus kenapa kamu bersikeras mau memakan ku?”.
Suara apa itu? Nampaknya dari pohon kecil di samping kanan ku. Ow ternyata ulat dengan daun yang bercakap. Tapi coba ku lanjutkan apa yang mereka perbincangkan. Sepertinya serius amat.
“Aku harus tetap hidup daun”
“Maksud mu apa? Kamu kira aku tak harus hidup? Aku juga ingin hidup”. Nampaknya dia kesal
“Iya aku tahu itu. Tapi aku yang lebih penting, maksud ku walaupun tidak ku makan pasti kamu …………….akan kering, gugur terus dibakar, mati juga kan?
Nampaknya setelah mendengarkan untaian ulat itu daun lebih memilih bisu, sepi. Aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Benar juga”.
“Apanya yang benar?”
“Makan saja aku!”
“Apa?”
“Iya makan sajalah aku”
“Kamu ikhlas?”
“Iya, setelah kau memakan ku kau akan bersemayam dan akan menjadi kepompong setelah itu …………….akan menjadi kupu-kupu yang sangat cantik yang mengindahkan negeri yang sudah agak amat …………….kotor ini. Setidaknya aku bisa menjadi bagian dari proses keindahan itu”.
Benar juga. Kalaupun daun itu tidak memberikan dirinya untuk dimakan oleh ulat itu, pasti tak lama lagi dia akan kering dan menjadi daun mati yang akhirnya dibkakar atau menjadi sampah yang sangat merugikan. Jadi untuk apa mempertahankan hidup jika hanya menjadi beban orang lain pada akhirnya.
Proses alam yang sangat indah. Rasanya haru sekali melihat dan mendengar pengorbanan daun terhadap ulat itu. Walaupun ulat tidak berkorban banyak malah hanya menikmati enaknya daun untuk mengindahkan alam. Memang begitulah alam semesta, siapa yang bisa mengelak.
Masih ku bungkukkan tubuhku seraya jemari ku menjepitplastik-plastik yang merusak ala mini. Tak mau ku pikirkan siapa yang melakukan ini. Lagi pula, walaupun kutemui siapa yang melakukan kecerobohan ini, dia pasti menyuap ku agar aku yang membereskan semua ini. Memang sialan. Maksud ku walaupun aku tidak mau, dia akan kabur dengan mobil bajanya. Biarlah.
Tunggu dulu. Astaga, siapa yang tega melakukan ini. Bukan sampah ini maksud ku. Ini kupu-kupu yang biangnya dari jenis ulat yang berbicara dengan daun tadi. Kasian sekali, kenapa dia lemas begini? Aku ingin bercakap kepadanya.
“Bisa ku bantu agar engkau bangkit kembali cantik?”
“Jangan, inilah takdir”
“Takdir? Maksud mu apa?”
“Iya, setelah aku menjadi kupu-kupu umurku akan lebih pendek daripada jika aku masih menjadi …………….ulat”
“Jadi kalau kau mau menjadi kupu-kupu kau harus mau mati juga?”
                “Iya, begitulah”
“Tapi kenapa?”
“Itulah pengorbanan ku”
“Jadi bukan daun saja yang berkorban?”
                “Bukan dia saja. Kami sama-sama berkorban untuk mengindahkan negeri ini”.
Astaga Indonesia itu memang sangat beragam. Iya. Maksud ku bukan hanya suku bangsa saja yang beragam, semuanya. Ada tikus yang mementingkan diri sendiri dan golongannya sampai pak Karsah tidak dapat makan malam tadi malam. Jadinya sekarang beliau tidak menjadga sekolah hari ini, katanya karena mag.
Untunglah, masih ada pengorbanan yang angggun untuk negeri ini. Daun yang mengorbankan kehijauannya untuk ulat yang ingin mengindahkan negeri ini. Daun itu juga takut menjadi sampah jika tidak digerogoti ulat. Dan juga ulat yang mengorbankan sisa umurnya untuk mengindahkan hamparan taman negeri ini. Sangat anggun.
Pengorbanan mereka lebih dari sekedar berdiri di samping tiang Sang Saka. Ataupun berdebat di dalam siding Paripurna yang katanya untuk rakyat, tapi nyatanya ndak gitu amat. Malah sepertinya rakyat semakin melarat. Mewakili rakyat katanya, untuk apa? Mungkin untuk mewakili kemauan rakyat.

Sudahlah. Yang jelas aku dan kita pembaca harus menjadi salah satu dari makhluk anggun itu, ulat atau daun. Daripada berumur panjang namun hanya menjadi beban dan makhluk menjijikan, lebih baik mati namun abadi sebagai ideologi.

SMAN 1 Bayan, 4 November 2015