Halaman
Nusantara Ku
Ya
ini memang kegemaran ku. Aku senang membungkukkan badanku yang hampir tegak
seperti Paskibraka kabupaten ini. Ya, walaupun tidak setegak bapak Seokarno
namun tidak selemas pidana mati narkoba juga. Seperti kata pak Jokowi “bunuh saja”.
Namun
sebenarnya ini bukan kegemaranku. Tapi ini seperti panggilan. Ya panggilan.
Bukan seperti panggilan para pejabat yang mencalonkan diri sebagai koruptor. Ya
walaupun kata mereka kurupsi itu menambah pundi-pundi rizki. Kalau begitu enak
sekali.
Sialan.
Aku mulai lagi dengan pandangan sinins ku terhadap negeri ini. Padahal tidak
selamanya begini. Buktinya pak Habibie, dialah idola ku yang sejati. Dengan
lantunan puisi yang sering beliau tuang dalam goresan tinta hitam di atas
kertas suci. Memang luar biasa beliau.
Tunggu
dulu, kenapa Ranggi membawa keresek hitam kotor itu. Padahal kata teman-teman
ku dia cowok yang paling resik lho. Sampai gosipnya dia selalu menyuap ajudan
cemennya si Doling untuk membuang sampahnya.
“kampret!
Ngerepotin aja”
“Kenapa
kamu Nggi?”
“Ini
ada tikus mati di laci meja ku”
Aku
tercengan agak hebat tapi tetap pada umumnya. Maksud ku apa mimpi anak ini tadi
malam tumben ndak pakai tenaga ajudan payahnya itu. Aku tak mau menanyakan
kemana si Doling. Buat apa?
“Kenapa
Drik? Emang kamu mau bantuin aku membuang benda menjijikan ini?”
“Tidak
ada Nggi. He..he.. kamu buang aja sendiri. Sesekali kaumu belajar mandiri kan
sudah …………….besar.
Lagi pula masih banyak plastik limbah manusia-manusia tak berotak ini”.
“Ha..ha..
kamu kan memang suka seperti ini. Membersihkan sampah orang lain. Kalau aku sih
…………….nggak banget
Drik”.
Aku
hanya membalas dengan senyum simple untuk menghargai teman kelas ku waktu masih
kelas X itu. Maksudku bukan masalah pekerjaan yang kulakukan sekarang. Tepatnya
sih bukan pekerjaan tapi , entahlah apa juga. Mungkin ini kegemaran ku kali.
Tapi tikus itu. Ya benar, kenapa tikus itu
mati? Padahal siapa yang membawa racun ke sekolah. Kaupun ada pasti hanya
sampai gerbang karena terditeksi alat canggih di gerbang. Yang jelasbukan mati
kelaparan, soalnya kemarin saya dengar penjaga sekolah kebobolan ember berasnya
dicuri tikus. Pasti itu tikusnya.
Tetapi kenapa
tikus itu membobol ember berasnya pak Karsah ya? Katanya sampai stengahnya
amblas. Padahal tubuhnya kecil masa bisa menguras setengah ember beras. Sialan,
pasti ada yang di santuni, eh bukan maksudku disuapi. Mungkin saja istri
simpanannya. Bodoh sekali padahal akhirnya dia mati juga.
Sudahlah untuk apa mengurus
bangkai seperti itu. Mampus juga ente.
“Biarkan saja
aku memakanmu”.
“Tidak! Aku
masih mau hidup, aku masih muda”.
“Iya saya tahu,
kamu benar”
“Terus kenapa
kamu bersikeras mau memakan ku?”.
Suara apa itu?
Nampaknya dari pohon kecil di samping kanan ku. Ow ternyata ulat dengan daun
yang bercakap. Tapi coba ku lanjutkan apa yang mereka perbincangkan. Sepertinya
serius amat.
“Aku harus tetap
hidup daun”
“Maksud mu apa?
Kamu kira aku tak harus hidup? Aku juga ingin hidup”. Nampaknya dia kesal
“Iya aku tahu
itu. Tapi aku yang lebih penting, maksud ku walaupun tidak ku makan pasti kamu …………….akan kering, gugur
terus dibakar, mati juga kan?
Nampaknya
setelah mendengarkan untaian ulat itu daun lebih memilih bisu, sepi. Aku
penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Benar juga”.
“Apanya yang benar?”
“Makan saja
aku!”
“Apa?”
“Iya makan
sajalah aku”
“Kamu ikhlas?”
“Iya, setelah
kau memakan ku kau akan bersemayam dan akan menjadi kepompong setelah itu …………….akan menjadi
kupu-kupu yang sangat cantik yang mengindahkan negeri yang sudah agak amat …………….kotor ini.
Setidaknya aku bisa menjadi bagian dari proses keindahan itu”.
Benar juga.
Kalaupun daun itu tidak memberikan dirinya untuk dimakan oleh ulat itu, pasti
tak lama lagi dia akan kering dan menjadi daun mati yang akhirnya dibkakar atau
menjadi sampah yang sangat merugikan. Jadi untuk apa mempertahankan hidup jika
hanya menjadi beban orang lain pada akhirnya.
Proses alam yang
sangat indah. Rasanya haru sekali melihat dan mendengar pengorbanan daun
terhadap ulat itu. Walaupun ulat tidak berkorban banyak malah hanya menikmati
enaknya daun untuk mengindahkan alam. Memang begitulah alam semesta, siapa yang
bisa mengelak.
Masih ku
bungkukkan tubuhku seraya jemari ku menjepitplastik-plastik yang merusak ala
mini. Tak mau ku pikirkan siapa yang melakukan ini. Lagi pula, walaupun kutemui
siapa yang melakukan kecerobohan ini, dia pasti menyuap ku agar aku yang
membereskan semua ini. Memang sialan. Maksud ku walaupun aku tidak mau, dia
akan kabur dengan mobil bajanya. Biarlah.
Tunggu dulu.
Astaga, siapa yang tega melakukan ini. Bukan sampah ini maksud ku. Ini
kupu-kupu yang biangnya dari jenis ulat yang berbicara dengan daun tadi. Kasian
sekali, kenapa dia lemas begini? Aku ingin bercakap kepadanya.
“Bisa ku bantu
agar engkau bangkit kembali cantik?”
“Jangan, inilah
takdir”
“Takdir? Maksud
mu apa?”
“Iya, setelah
aku menjadi kupu-kupu umurku akan lebih pendek daripada jika aku masih menjadi …………….ulat”
“Jadi kalau kau
mau menjadi kupu-kupu kau harus mau mati juga?”
“Iya, begitulah”
“Iya, begitulah”
“Tapi kenapa?”
“Itulah pengorbanan
ku”
“Jadi bukan daun
saja yang berkorban?”
“Bukan dia saja. Kami sama-sama berkorban untuk mengindahkan negeri ini”.
“Bukan dia saja. Kami sama-sama berkorban untuk mengindahkan negeri ini”.
Astaga Indonesia
itu memang sangat beragam. Iya. Maksud ku bukan hanya suku bangsa saja yang
beragam, semuanya. Ada tikus yang mementingkan diri sendiri dan golongannya
sampai pak Karsah tidak dapat makan malam tadi malam. Jadinya sekarang beliau
tidak menjadga sekolah hari ini, katanya karena mag.
Untunglah, masih
ada pengorbanan yang angggun untuk negeri ini. Daun yang mengorbankan kehijauannya
untuk ulat yang ingin mengindahkan negeri ini. Daun itu juga takut menjadi
sampah jika tidak digerogoti ulat. Dan juga ulat yang mengorbankan sisa umurnya
untuk mengindahkan hamparan taman negeri ini. Sangat anggun.
Pengorbanan
mereka lebih dari sekedar berdiri di samping tiang Sang Saka. Ataupun berdebat
di dalam siding Paripurna yang katanya untuk rakyat, tapi nyatanya ndak gitu
amat. Malah sepertinya rakyat semakin melarat. Mewakili rakyat katanya, untuk
apa? Mungkin untuk mewakili kemauan rakyat.
Sudahlah. Yang jelas
aku dan kita pembaca harus menjadi salah satu dari makhluk anggun itu, ulat atau
daun. Daripada berumur panjang namun hanya menjadi beban dan makhluk
menjijikan, lebih baik mati namun abadi sebagai ideologi.
SMAN 1 Bayan, 4 November 2015